Fenomena Ijasah dan Skill

18.00
Akhir-akhir ini mulai banyak media massa yang membicarakan ijasah palsu, dan pemerintah mulai gencar ngecekin satu-satu staff mereka yang menggunakan ijasah palsu, yakelah kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari dulu waktu anak-anak fresh graduate pas gencar-gencarnya nyari kerja ditolak cuma karena kalah ijasah? Kenapa banyak tanya?


Gue punya pengalaman unik waktu tes tertulis di salah satu instasi IT yang ada di Kelapa Gading, waktu itu saingan gue adalah cowok tambun jebolan D3 dari universitas ternama, sedangkan gue adalah lulusan dari SMK swasta yang kadang kalo ada yang Tanya, ‘Kamu lulusan mana dek?’ ‘Lulusan SMK bla, bla pak.’ Balas gue sambil nyengir.

‘Oh.’

Cuma ‘Oh’ doang, gue yakin dia gak tahu dimana letak sekolah gue itu. Tapi bukan mantan sekolah gue yang udah bikin gue jadi seperti sekarang ini, tapi ini tentang fenomena Skill kalah dengan ijasah. Lanjut waktu gue tes tertulis, waktu itu gue melaksanakan tes tertulis, soalnya sama, satu jam gue ngerjain dengan penuh hati-hati karena ini adalah kerjaan pertama gue ketika gue diterima nantinya. Setelah waktu dinyatakan habis, 30 menit kemudian hasil langsung keluar, yang dipanggil gue doang, iya gue doang, yang anak D3 tadi langsung pulang.

Setelah melanjutkan wawancara gue mengikutinya dengan tenang, sampai pada pembicaraan gak serius gue bertanya, ‘yang tadi gak di wawancara juga pak?’ ‘oh yang tadi, gak lulus tes tertulis, padahal D3 dan pengalaman kerjanya udah banyak.’

Seperti adegan di sinetron, gue ngomong sendiri di dalam hati.

‘Oh iya, kamu bisa Vb. Net?’

‘Apa pak? Itu teknik kayang jenis apa ya?’

‘Vb. Net mas, #C, Php, bisa Mysql juga kan?’

Gue bengong. Jujur aja gue gak ngerti apa yang HRD itu sebutkan, setelah bengong lama, gue membalasnya, ‘Saya gak ngerti pak, kalo ada training saya bisa, saya lebih ke IT Support/Helpdesk, lebih banyak ke hardware.’ Jelas gue singkat.

‘Oh gitu, sayang sekali ya, padahal tes kamu nilainya bagus, gini aja deh, nanti saya infokan lagi untuk bagian lainnya ya.’

‘Siap pak,’

Setelah berakhirnya wawancara itu, gue mulai mencari kerjaan lainnya, mulai apply beberapa instansi yang membuka lowongan dengan skill yang gue punya, akhirnya gue dipanggil lagi buat interview di instasi IT, gak pake tes abis itu ngomongin gaji terus besoknya diterima, dengan gaji yang gak sesuai dengan kebutuhan sehari-hari gue udah seneng aja dapat pekerjaan pertama. Seminggu setelah kerja gue ditelpon sama HRD yang anggap gue adalah programmer handal, dia tanya apakah gue udah kerja, gue bilang aja udah kerja.

Setiap kali gue lihat loker di media online/offline, gue selalu tertegun dengan minimal pendidikannya, D3, S1, S2, S3, S4, S5, S6 Galaxy Edge. Tapi gue selalu pengin ngacak-acak tuh loker kalo jobdesknya setara dengan anak SMK, kan gak adil, seolah-olah semua loker tuh mengacu pada ijasah bukan skill, padahal mah kalo mau diadu orang-orang yang Sarjana itu belum tentu punya skill, ya siapa tahu aja tuh ijasah beli kan, siapa yang tahuuu?

Mungkin sebagai generasi bangsa yang menuntut untuk menghapuskan pengangguran dan menambah sebanyak-banyaknya lapangan perkerjaan gue akan minta satu hal ketika instasi mempublish loker, ‘jangan utama ijasah tapi skillnya, percuma kan kalo ijasahnya dewa tapi gak ada skillnya. Gak sayang ngasih gaji buta??’


Akhirnya bisa nulis ini diwaktu yang tepat, biar semua orang-orang yang butuh pekerja bisa sadar kalo yang selama ini kalian lakukan itu salah, mengedepankan ijasah meskipun skillnya nol besar :p  

Share this

Blogerwin.com adalah website personal calon penulis yang sekarang sedang sibuk menyiapkan konten untuk Youtubenya.

Artikel Lainnya

Previous
Next Post »

Silakan berkomentar sesuai artikel, berikan saran dan kritik yang membangun, karena tanpa kalian blog ini bukan apa-apa. EmoticonEmoticon