Jebakan Di Jalan Raya

19.00

Tadi malam bukan malam yang biasa buat gue, pertama: gue kehujanan ketika hendak pulang dari daerah puncak, kedua: ban motor gue bocor di jalan yang biasa gue lewati, ketiga: gue dapet tukang tambal ban yang mengecewakan, terakhir keempat: gue bolos kerja gara-gara motor kempes lagi bannya di pagi-pagi buta.

Rentetan kejadian di atas ngebuat gue menghela napas panjang banget. Terlebih kondisi gue udah capek dan ditambah dengan kejadian antiklimaks itu. Hal ini berawal ketika gue mengantarkan seorang teman di daerah Cakung, dalam perjalanan baik-baik aja-tapi pas gue akan menuju arah Bekasi, kejanggalan pun terjadi. Jalanan itu sudah biasa gue lewati, gue sering banget ngelewati jalan itu-karena memang itu adalah jalur berangkat-pulang kerja, dan selama ini nggak ada masalah apa-apa. Tapi tadi malam ada sedikit masalah, gue memacu motor diatas 60km/jam entah kenapa tiba-tiba ban belakang gue rasanya nggak enak, kalau kata orang jawa “mletot-mletot mlakune” Sadar kalau ban belakang ada masalah, gue meminggirkan motor, gue turun dan melihat ban yang sudah kempes dengan cantik. Setelah gue cek, ternyata ada paku yang menembus hingga 5cm. Gue masih berpikir positif dengan kejadian itu.

Setelah mencabut paku itu dari ban, gue menuntun motor hingga 200m, di depan sana tampak ada sebuah bengkel kecil yang di sisi depan ada tabung gas compressor berwarna orange. Gue memparkirkan tepat di depan bengkel itu.

“Bang, nambal, ban belakang.” Kata gue sedari menunjuk ke arah ban belakang kepada seorang montir yang masih sibuk mengganti ban dalam bagian belakang seorang konsumen.

Montir itu hanya melihat gue sekilas dan melihat motor gue, setelah itu dia masih melanjutkan pekerjaannya. Lalu gue mencari tempat duduk kosong untuk menunggu antrean, sambil menunggu gue memperhatikan cara montir itu memasang ban dalam yang sedang dia kerjakan. Tapi entah kenapa gue ngerasa montir ini terlalu kasar memperlakukan pekerjaannya, kenapa gue bisa bilang kasar: Jawabanya sederhana, montir itu membuka ban belakang dengan melumuri air sabun ke seluruh ban yang akan di eksekusi dan menggunakan satu kunci congkel yang biasa untuk mencongkel ban. Cara kerjanya adalah dengan mencongkel sekali dan menarik ban dalam motor dengan paksa. Selesai.

Padahal yang gue tahu tentang perbengkelan sederhana ini, kita harus menggunakan kunci congkel ban minimal dua atau maksimal tiga, kenapa gue bisa bilang begitu. Karena dulu gue pernah nanyak sama bokap gue, kalau tata cara menambal ban yang benar harus menggunakan dua-tiga kunci congkel agar hasilnya maksimal dan tidak terkesan kasar.

Lalu gue masih berpikir positif lagi, mungkin ini teknik baru biar cepet kerjanya.

Beberapa menit kemudian, si montir sudah selesai memasang ban belakang motor itu dan si konsumen yang sudah menunggu sebelum gue dateng menanyakan masalah biayanya.

“Berapa bang?” tanya konsumen yang ada di sebelah gue sedari beranjak berdiri dan membuka dompet berwarna merah muda.

“Lima puluh lima ribu.” Balas si montir mantap.

“Ha?” si konsumen seperti terserang budeg mendadak, atau dalam bahasa ilmiahnya tuli.

“Ban dalemnya yang bagus bu.” Jelas si montir.

Dengan raut wajah bingung dan sedikit ragu dengan penjelasan si montir, si konsumen memberikan pecahan uang lima puluh ribuan dan selembar sepuluh ribuan dengan wajah yang masih ragu dan terkesan nggak percaya dengan harga yang tidak wajar itu.

Dengan langkah berat, si konsumen meninggalkan bengkel.

Setelah itu, giliran motor gue yang akan di eksekusi. Teknik membuka ban dalamnya masih sama, yaitu dengan melumuri air sabun dan menggunakan satu kunci congkel. Teknik ini cenderung sangat kasar untuk gue, tapi gue tetap berpikir yang positif. Beberapa detik kemudian ban dalam bagian belakang berhasil di keluarkan, gue beranjak bangkit dari bangku tunggu, mendekati motor dan mendapatkan, voila. Ban dalamnya robek, alhasil saat itu juga gue harus mengganti ban dalam dengan yang baru. Dan kejanggalan ini pun semakin melayang-layang di pikiran gue, nggak biasanya kena paku ban bisa robek, kecuali kena paku tapi dipaksain buat jalan terus.


foto mahasantri


Beberapa saat kemudian ada bapak-bapak mendorong motor maticnya dengan wajah kusut, memberhentikan tepat di depan bengkel dan memberikan instruksi kepada si montir untuk mengecek ban belakang yang kempes. Lagi-lagi montir hanya melempar pandangan sebentar tanpa senyum sumringah.

“Ban dalem berapa bang?” gue bertanya seolah orang awam, tapi sebenarnya gue tahu sedikit tentang harga ban dalam dipasaran.

“Lima puluh lima sama masang.” Balas dia singkat.

“Ha?” gue syok, jantung gue hampir loncat keluar mendapati jawaban yang hampir sama seperti si konsumen sebelumnya.

“Ban dalemnya aja berapa?” gue bertanya lagi.

“Lima puluh.” Ujar dia enteng.

“Lima puluh?” gue mengulang nominal itu. Setelah berpikir pendek, gue mengiyakan untuk diganti ban dalamnya. “Yaudah, ganti.” Gue berkata ketus dengan perasaan yang masih berat.


foto spesial

Lima menit setelah si montir mencoba mengganti ban dalam dengan yang baru, ada seorang pasutri mendorong motornya, lagi-lagi parkir tepat di sebelah motor si bapak-bapak yang sebelumnya sudah parkir duluan, problem yang sama. Ban belakang mereka kempes. Pikiran gue udah random, dalam jangka waktu yang singkat, udah ada lebih dari tiga orang yang menambalkan ban motornya. Satu orang lagi pasti dapet piring, gumam gue dalam hati.

Beberapa saat setelah gue memikirkan hal itu, ada suara ledakan dari arah motor gue, ya betul sekali-suara ledakan itu berasal dari ban baru yang dipasang oleh si montir, kemudian semua orang yang ada di situ terdiam dan memandangi ban motor gue dan si montir yang mengecewakan itu. Si bos bengkel membuka suara.

“Gimana sih lo, kekencengan itu anginnya.” Kata si bos dari dalam bengkel.

“!@$(#!%*!#&%!@$*!@j” balas si montir nggak jelas.

Semua orang masih memperhatikan si montir termasuk gue.

“Masih ada paku, di cek dulu.” Kata si bos lagi sedari melemparkan ban baru ke arah si montir.

Si montir hanya membalas dengan senyum jijik. Semua orang masih memperhatikan dia.

Dan benar saja, si montir yang kecepetan alay ini nggak mengikuti prosedur yang benar cara menambal ban motor. Kunci congkel lebih dari dua, membuka ban dengan pelan tapi pasti, mengecek apakah masih ada paku atau tidak dan terakhir tidak ada sapa senyum. Semua itu tidak dia jalankan dengan benar.

Beberapa menit kemudian motor gue sudah selesai, lalu gue beranjak menghampiri kasir, memberikan dengan berat hati selembaran uang lima puluh ribuan dan selembar uang lima ribuan. Sangat berat sekali gue memberikan uang itu. Yang gue tahu adalah, ban dalam ukuran 225 itu adalah di antara 25rb-40rb-dan itu pun dengan merek-merek ternama, tapi ban yang satu ini nggak ada ternama-ternamanya. Gue ngelihat kotaknya aja nggak pernah, tapi entah kenapa mahalnya naudzubila mindhalik. Gue rasa si montir pengen cepet kaya mendadak.

Setelah mengecek ban yang baru di ganti itu, gue pergi dan menikmati jalanan lagi menuju pulang ke rumah. Di perjalanan gue menyimpulkan, jika malam ini gue sudah menjadi korban tebar paku dan oknum yang menghancurkan harga pasaran ban dalam motor.

Sesampainya di rumah, gue ngetweet:

              Hindari jalan cakung arah kranji, banyak ranjau paku. Cc: @TMCPoldaMetro @BekasiUrbanCity

Lalu tweet gue itu di retweet oleh beberapa akun dan gue langsung di DM sama akun @TMCPoldaMetro

             Terima kasih infonya, Mas. Diteruskan ke Tim ranjau paku.

Gue lega, dan mungkin ini adalah malam absurd buat gue, sebelum gue beranjak tidur, gue berpikir lagi kalau kejadian malam ini udah kelar tapi jawaban itu terjawab ketika gue akan menjemput bokap di stasiun, sekitar pukul tiga pagi gue bergegas menjemput bokap yang sudah menunggu. Gue mengeluarkan motor dan langsung tancap gas, tapi rasanya kok “mletot-mletot” lagi. Gue memastikan dengan turun dari motor dan mengecek ban belakang. Voila, ban belakang yang baru di ganti beberapa jam yang lalu sudah kempes lagi.

Karena gue buru-buru, akhirnya gue minjem motor nyokap buat jemput bokap di stasiun. Dan paginya gue nggak bisa kerja karena bengkel mulai buka di atas jam sepuluh, sedangkan jam kantor gue adalah jam delapan. Motor nyokap nggak mungkin gue bawa kerja, karena beliau akan gunakan untuk bekerja.

Satu jebakan yang ngebuat hari gue berantakan.

Buat gue-mau cari uang itu boleh aja, tapi kalau caranya nggak halal jangan harap bisa hidup nyaman, gue hanya bisa mendoakan agar oknum-oknum itu menyadari perbuatannya akan membuat orang lain merugi dan berdampak buruk buat dirinya sendiri. Mungkin kalian agar hati-hati kalau melintasi jalanan Cakung arah Kranji tepatnya di dekat ruko Ujung Menteng.


Terakhir, kalau kalian mau share cerita bisa tambahin di komen box ya.

Share this

Blogerwin.com adalah website personal calon penulis yang sekarang sedang sibuk menyiapkan konten untuk Youtubenya.

Artikel Lainnya

Previous
Next Post »

Silakan berkomentar sesuai artikel, berikan saran dan kritik yang membangun, karena tanpa kalian blog ini bukan apa-apa. EmoticonEmoticon