Sunday, September 29, 2013

Puisi Kamu dan Secangkir Coklat Panas


Puisi Kamu dan Secangkir Coklat Panas



Selepas senja, aku masih duduk sendiri bersama sepi.
Aku masih menikmati seceruk asa yang enggan pergi.
Setiap tegukan dari cangkir yg masih sama.
Cangkir yg berisi coklat panas dengan uap yang menari-nari. 
Baca Juga: 5 Cafe Instagramable di Bekasi

Aku masih menunggu kamu kembali.
Duduk berdua menikmati tegukan yang berkali-kali.
Bergelak tawa menertawakan hal yang sudah basi. 
Aku masih menanti hadirmu kembali lagi.
Setiap seruputan yang enggan berhenti dari lorong-lorong batang kecil seperti pipa ini.
Berhenti pada satu ruang yang sudah dimiliki. 
Aku bahkan masih mengingatmu, mungkin kau sudah melupakanku.
Aku bukan siapa-siapa, sedangkan kau adalah siapa-siapaku, terlebih dalam hidupku.
Aku memang bukan yang terbaik, tapi setidaknya yang terbaik adalah kita yang pernah ada.
Coklat panas masih menjadi minuman favoritku.
Kamu masih menjadi bidadari dihidupku, walau kini sudah pergi.
Kita masih tetap saja menjadi sebuah angan yang katanya tak akan pernah mati.
Hingga akhirnya harapan yang selalu menepi pada sebuah luka atau bahkan rasa yang sudah tiada. 
Teruntukmu yang tak ingin tahu.