Tentang Jarak

19.00

Gue menggunakan penerbangan pagi menuju Denpasar, biar sampai sana gak siang-siang banget, ini untuk pertama kalinya gue pergi ke pulau dewata, bukan untuk liburan tapi kerja, banyak yang bilang kalo kerja di Denpasar enak, setiap hari ngerasa kayak liburan, gue bilang ‘gak’. Namanya kerja ya kerja, sedangkan liburan ya liburan, esensinya beda.


Kerja, lo lagi kerja dan membereskan segala hal yang berfokus pada kemajuan perusahaan tempat lo kerja sedangkan liburan, lo santai-santai tanpa ada jadwal meeting sama klien atau telpon dari bos yang minta dikirimin draft penawaran.

Jadi jangan pernah punya mindset kerja di pulau Dewata = liburan sambil kerja.

Sampai di Denpasar gue langsung menuju kos, entah berapa lama waktu yang gue habiskan di kota ini, gue belum tahu pasti, tapi gue tahu gimana rasanya jauh dari kekasih hati. Seperti pada umumnya pasangan yang sedang melawan jarak, setiap waktu selalu ada kisah pilu, selalu ada keinginan untuk pergi ke bandara dan langsung berdiri tepat di depan pintu rumah kekasih dan memeluknya dengan erat sambil bilang, ‘aku kangen.’

Karena gak ada kangen yang gak berakhir dengan ketemuan, karena lagi, bagi gue kangen yang gak ketemuan itu sama aja kayak nasi goreng tanpa garam, hambar.

Tapi gue sadar kalo jarak Jakarta-Denpasar sangat mahal, gue bisa gak makan dua minggu cuma buat beli tiket kesana, pulangnya dengan ngambang di pinggiran kalimalang karena gak punya ongkos beli tiket balik.

Tapi ya gitu, perbedaan waktu yang bikin gue makin gelisah, padahal cuma duluan gue sejam loh tapi rasanya tuh lama, gue gak bisa ngebayangin pasangan lain yang perbedaan waktunya bisa lebih dari 10 jam, rasanya gimana tau tuh.

Seperti pada umumnya pasangan yang melawan jarak, gue sampai ada jadwal buat telpon pacar, setelah gue kelar cari makan, sampai di kos gue akan standby di depan telpon dan menunggu jam 8 WITA untuk menelpon pacar, kalo lagi gak ada gangguan kita bisa menghabiskan 3 jam di telpon, padahal kalo lagi ketemuan malah saling diam tanpa kata, alasannya karena bingung mau ngomongin apa?

Sedih.

Awal-awal gue LDR dengan pacar penuh dengan duka, dari waktu telpon yang terbatas karena something, gue yang bisa ketemu sama dia Cuma 3 bulan sekali, itupun 2-3 hari, kemudian gue harus balik lagi ke Denpasar.



Sampai pada bulan ke-8 gue berada di denpasar, gue memutuskan untuk balik ke Jakarta, alasannya karena Denpasar gak beruntung untuk gue jadikan partner kerja, dan alasan lain biar gue dekat dengan kekasih hati.

Delapan bulan bertarung dengan jarak bikin gue kuat, bikin gue ngerti pentingnya berkirim kabar, bukan hanya sekedar kalimat, ‘kamu hati-hati ya disana’ atau ‘kamu udah makan’ tapi kalimat-kalimt itu penuh dengan makna, penuh dengan kekhawatiran yang mungkin hanya sebagian orang yang mengerti.

Lanjutannya minggu depan, biar asoy.


Share this

Blogerwin.com adalah website personal calon penulis yang sekarang sedang sibuk menyiapkan konten untuk Youtubenya.

Artikel Lainnya

Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
11/09/2015 delete

Wah kayaknya si abang gak kuat LDRan nih haha. :D bawa aja atuh bang kekasihnya ke Bali.

Reply
avatar

Silakan berkomentar sesuai artikel, kasih saran dan kritik yang membangun, karena tanpa kalian blog ini bukan apa-apa. EmoticonEmoticon